Pages

Senin, 13 Mei 2013

MEDIA PEMBELAJARAN ATRAKTIF


MEDIA PEMBELAJARAN
MEDIA PEMBELAJARAN ATRAKTIF
E-Book
Ujian Tengah Semester mata kuliah Media Pembelajaran




Disusun Oleh :
Brilianty Wijaya
1005404





PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013





KATA PENGANTAR


Dengan ucapan Alhamdulillahhirabbilalamin sebagai rasa terima kasih dan puji syukur kepada Allah SWT e-book ini dapat terselesaikan.
Adapun salah satu tujuan dari disusunnya e-book ini adalah untuk memenuhi ujian tengah semester mata kuliah media pembelajaran. E-book ini berjudul Media Pembelajaran Atraktif.
Atas selesainya e-book ini tentunya tidak lepas dari bantuan semua pihak dan dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Drs. Sri Handayani, S. Pd, M. Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah media pembelajaran yang dalam hal ini juga sebagai pemberi ujian.
Tentunya dalam penyusunan e-book ini banyak terdapat kesalahan, baik dari segi kosakata maupun dari segi pengertian. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang pembangun sangat diharapkan agar dalam pembuatan e-book-e-book di masa mendatang dapat lebih baik lagi. Segala saran dan masukan atas kekurangan e-book ini, penyusun e-book terima dengan pikiran terbuka dan ucapan terima kasih.





Bandung, April 2013
Penyusun,




 
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL......................................................................................................................1
KATA PENGANTAR................................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
1.      MEDIA PEMBELAJARAN..........................................................................................4
2.      PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN...........................13
3.      PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ATRAKTIF..............................................19
4.      MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF DI TAMAN KANAK-KANAK..............27
5.      KARAKTERISTIK SISWA, MEDIA DAN METODE PEMBELAJARAN DI SD..35
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................51






 
1.      MEDIA PEMBELAJARAN

I. 1   Latar Belakang
Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu dasar peningkatan pendidikan secara keseluruhan. Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi bagian terpadu dari upaya peningkatan kualitas manusia, baik aspek kemampuan, kepribadian, maupun tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Mutu pendidikan sangat tergantung kepada kualitas guru dan pembelajarannya, sehingga peningkatan pembelajaran merupakan isu mendasar bagi peningkatan mutu pendidikan secara rasional.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang, karena hasil dari proses pendidikan akan dirasakan baik untuk saat ini maupun untuk waktu yang akan datang. Kondisi yang akan datang dapat dibentuk melalui pendidikan yang sedang kita lakukan sekarang, artinya bahwa pendidikan harus dapat menyiapkan dan menjawab tantangan dan kebutuhan di masa yang akan datang.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, disadari atau tidak pengaruhnya semakin terasa dengan semakain banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk media. Media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, meskipun dalam derajat yang berbedabeda.
            Di negara maju, media telah mempengaruhi kehidupan hampir sepanjang waktu. Waktu terpanjang yang paling berpengaruh itu adalah waktu yang digunakan di dunia pendidikan khususnya untuk sekolah. (Miarso, 1989). Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang penting dalam mendukung keberhasilan proses belajar mengajar itu.
 
II. 1   Pengertian  Media Pembelajaran
Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima (Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim et.al., 2001).
Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa
proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. 
Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh – pengaruh psikologi terhadap siswa.
Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Sedangkan menurut para pakar bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, televisi dan computer (Gagne dan Briggs: 1975).
Jadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.

II. 2   Fungsi dan Manfaat

Fungsi Media Pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.
Fungsi media pembelajaran, diantaranya sebagai berikut:
1. Fungsi atensi
Media dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna yang ditampilkan dalam materi pelajaran.
2. Fungsi afektif
Fungsi media dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa/mahasiswa ketika proses belajar mengajar berlangsung.
3. Fungsi kognitif
Media dapat mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi kompensatoris
Media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian konteks untuk memahami teks, membantu siswa yang lemah dalam membaca, untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali
5. Fungsi Psikomotoris
Fungsi ini diberikan dengan maksud untuk menggerakkan siswa melakukan suatu kegiatan, terutama yang berkenaan dengan hafalan-hafalan.

6. Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi dimaksudkan agar segala kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanaka dapat dilakukan penilaian kemampuan siswa dalam merespon pembelajaran.

Manfaat Media Pembelajaran. Secara umum manfaat media pembelajaran ialah dapat dikatakan untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan belajar mengajar lebih optimal, efektif, dan efisien baik dari segi teroritis maupun praktikum yang pada akhirnya teraplikasi dalam tindakan.
Sedangkan secara lebih spesifikasi manfaat media pembelajaran yang telah terakumulasi dari beberapa pendapat pakar adalah:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat  dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.  Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga.
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru. Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa,  pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain sebagainya.

II. 3   Pengenalan Beberapa Media Pembelajaran
Ada beberapa jenis media pembelajaran yang biasa digunakan dalam proses belajar
mengajar, antara lain :
1. Media Grafis
Media grafis termasuk media visual, sebagaimana halnya media yang lain media grafis berfungsi menyalurkan pesan dari sumber kepenerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan.pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual. Banyak jenis media grafis diantaranya:
a. Gambar atau Foto
Di antara media pendidikan, gambar/foto adalah media yang paling umum dipakai. Gambar/foto merupakan bahasa yang paling umum, yang dapat dimengerti dan dapat dinikmati dimana-mana.
b. Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal dapat belajar menggambar, maka setiap guru yang baik dapatlah menuangkan ide-idenya kedalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian murid, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tidak perlu dipersoalkan sebab madia ini dibuat langsung oleh guru.
c. Diagram
Sebagai suatu gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol, diagram atau skema menggambarkan struktur dari objek secara garis besar. Diagram menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada. Diagram pada umumnya berisi petunjuk-petunjuk. Diagram menyaderhanakan hal yang kompleks sehingga dapat memperjelas penyajian pesan.
d. Bagan/Chart
Sepeti halnya media grafis yang lain, bagan atau carta termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu persentasi. Pesan yang akan disampaikan biasanya burupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan atau hubungan-hubungan penting.
e. Grafik (Graphs)
Sebagai suatu media visual, grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, garis atau gambar. Untuk melengkapinya sering kali simbol-simbol verbal digunakan pada grafik. Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas. Berbeda dengan bagan, grafik disusun berdasarkan prisip-prinsip matematik dan menggunakan data-data komparatif.
2. Teks
Media ini membantu pembelajar fokus pada materi yang disiswai karena pembelajar cukup mendengarkan tanpa melakukan aktivitas lain yang menuntut konsentrasi, serta sangat
cocok bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi.
3. Audio
Media audio memudahkan dalam mengidentifikasi obyek-obyek, mengklasifikasikan
obyek, mampu menunjukkan hubungan spatial dari suatu obyek, membantu menjelaskan konsep abstrak menjadi konkret. Conto dari media audio ialah radio dan tape recorder.
4. Animasi
Media Animasi mampu menunjukkan suatu proses abstrak di mana pengguna ingin
melihat pengaruh perubahan suatu variabel terhadap proses tersebut. Namun media Animasi menyediakan suatu tiruan yang bila dilakukan pada peralatan yang sesungguhnya terlalu mahal untuk mendapatkannya atau berbahaya dan berbagai macam kendala lainnya.
 5. Video
Video mungkin saja kehilangan detail dalam pemaparan materi karena siswa harus mampu mengingat detail dari scene to scene (per adegan). Umumnya pengguna menganggap belajar melalui video lebih mudah dibandingkan melalui teks sehingga pengguna kurang terdorong untuk lebih aktif di dalam berinteraksi dengan materi. Video memaparkan keadaan riil dari suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya pemaparan. Video sangat cocok untuk mengajarkan materi dalam ranah perilaku atau psikomotor.

Pengelompokkan media yang banyak dianut oleh para pengelolah pendidikan adalah
seperti yang disampaikan oleh Kemp dan Dayton (1985). Oleh mereka, Media
Pembelajaran dikelompokkan menjadi 10 kelompok yaitu:
1. Cetak
2. Audio
3. Audio-Cetak
4. Proyeksi Visual Diam (OverHead Transparan/OHT)
5. Proyeksi Visual Diam Dengan Audio
6. Visual Gerak
7. Visual Gerak Dengan Audio
8. Benda
9. Manusia Dan Sumber Lingkungan
10. Komputer

II. 4   Pemilihan Media Pembelajaran
Berdasarkan ketersediaannya media dapat dikelompokkan menjadi Media Jadi (Media By Utilization) dan Media Rancangan (Media By Design) alasan utama seseorang menggunakan media adalah media dapat berbuat lebih dari biasa yang dilakukan. Pemilihan media dilakukan agar penggunaan media dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka haruslah dipilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Haruslah diketahui bahwa media merupakan komponen dari keseluruhan sistem pembelajaran. Minimal ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran, yaitu:
1. Alasan meililih media, hal ini perlu karena adanya berbagai macam media, ada media
yang hanya cocok digunakan untuk menyampaikan informasi tertentu, ada perbedaan
karakteristik setiap media, ada perbedaan pemakai, dan perbedaan situasi dan kondisi.
2. Waktu yang tepat memilih media, dilakukan setelah mengetahui tujuan instruksional,
sebelum melaksanakan program pengajaran, atau dengan kata lain pada waktu
merencanakan program pengajaran.
3. Pemilihan media, dilakukan oleh guru, penyusun desain instruksional seorang
profesional dalam kemediaan 
4. Cara memilih media, media yang dipilih harus paling baik. Baik dan buruknya media
diukur sampai sejauh mana media itu dapat menyalurkan informasi, dan sejauh mana
media tersebut  dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional.
Adapun dalam memilih media, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
o memahami karakteristik setiap media,
o sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai,
o sesuai dengan metode pengajaran yang kita gunakan,
o sesuai dengan materi yang kita komunikasikan,
o sesuai dengan keadaan siswa,
o sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan, kemudahan memperoleh media,
o sesuai keterampilan guru dalam menggunakannya,
o ketersediaan waktu dalam menggunakannya,
o sesuai dengan taraf berpikir siswa. 

II. 5   Penggunaan Media Pembelajaran
Penggunaan media pengajaran dapat membantu pencapaian keberhasilan belajar. Ditegaskan oleh Danim (1995:1) bahwa hasil penelitian telah banyak membuktikan efektivitas pengunaan alat bantu atau media dalam proses belajar mengajar di kelas, terutama dalam hal pengingkatan prestasi siswa. Terbatasnya media yang dipergunakan dalam kelas diduga merupakan salah satu penyebab lemahnya mutu belajar siswa.
Dengan demikian penggunaan media dalam pengajaran di kelas merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Hal ini dapat dipahami mengingat proses belajar yang dialami siswa tertumpu pada berbagai kegiatan menambah ilmu dan wawasan untuk bekal hidup di masa sekarang dan masa akan datang. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah bagaimana menciptakan situasi belajar yang memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa dengan menggerakkan segala sumber belajar dan cara belajar yang efektif dan efisien.
Sasaran dari penggunaan media adalah agar anak didik mampu menciptakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi yang lain yang berguna dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan kepada mereka.
Tiga kemungkinan yang terjadi dalam peng-evaluasi-an dari penggunaan media
pembelajaran, yaitu :
 1. Apabila media yang digunakan terdapat sesuatu kekurangan maka kemungkinan
media tersebut akan dimodifikasi.
2. Apabila media yang digunakan sama sekali tidak menghasilkan tujuan dari apa
yang diinginkan, maka akan dilakukan perombakan total terhadap penggunaan
media tersebut.
3. Apabila media yang dipergunakan telah mencapai tujuan yang diinginkan maka
media tersebut dianggap baik dan dapat dipertahankan.

III. 1   Kesimpulan
Proses belajar mengajar seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Pemilihan media dalam pembelajaran merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam proses belajar mengajar. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio).
Konsep permainan dalam pembelajaran digabung dengan media yang digunakan untuk menghasilkan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan. Sesi pembelajaran bisa disesuaikan dengan tahap penerimaan dan pemahaman siswa. Upaya membuat anak betah belajar di sekolah dengan pemilihan media yang tepat merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa.
Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tengah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergral peradaban masyarakatnya

III. 2   Saran
Dalam proses pembelajaran diperlukan kreativitas dan inovasi yang terus menerus. Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan oleh guru melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menarik, membangkitkan keingintahuan pada siswa, memotivasi siswa dalam berpikir kreatif dan merangsang untuk menemukan hal-hal baru pada guru maupun siswa. Sebagai tugas pokok guru adalah merangsang terciptanya proses pembelajaran aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan serta efektif dan efisien di kelas. Sehingga sasaran dan target dari kebijakan pendidikan dapat tercapai dan dapat diwujudkan seperti yang diamanatkan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.
  
SUMBER (1. MEDIA PEMBELAJARAN):
Estrada, E. dkk. (2010). Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: ejournal.unesa.ac.id/article/3084/12/article.docx. [04 April 2013]





2.      PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN

Ruang Lingkup dan Fungsi Media Pembelajaran
a. Ruang Lingkup Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan alat bantu yang berfungsi untuk menjelaskan sebagian dari keseluruhan program pembelajaran yang sulit dijelaskan secara verbal. Materi pembelajaran akan lebih mudah dan jelas jika dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran. Maka media pembelajaran tidak untuk menjelaskan keseluruhan materi pelajaran, tetapi sebagian yang belum jelas saja. Ini sesuai fungsi media yaitu sebagai penjelas pesan.
Untuk itu, salah satu ciri media pembelajaran dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan, dan penciuman siswa. Secara umum, ciri-ciri media pembelajaran adalah bahwa media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indera. Di samping itu, ciri-ciri media juga dapat dilihat menurut harganya, lingkup sasarannya, dan kontrol oleh pemakai (Angkowo, 2007: 11).
Gerlach dan Ely dalam Arsyad ( 2006: 14) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
1)      Ciri fiksatif (fixative property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film.

2)      Ciri manipulatif (manipulative property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Misalnya, bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman fotografi tersebut.
3)      Ciri distributif (distributive property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
Dewasa ini, distribusi media tidak hanya terbatas pada satu kelas atau beberapa kelas pada sekolah-sekolah di dalam suatu wilayah tertentu, tetapi juga media itu misalnya rekaman video, audio, disket komputer dapat disebar ke seluruh penjuru tempat yang diinginkan kapan saja.
Ketiga ciri ini merupakan karekteristik media yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Terkadang guru harus menyampaikan sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau, ruang dan waktu yang terbatas, serta materi yang sangat abastrak. Dengan mempertimbangkan ketiga hal ini guru dapat memilih, menciptakan, dan menggunakan media.
Sedangkan menurut Ahmad Rohani (1997: 4), ciri-ciri umum media pembelajaran adalah sebagai berikut :
1)      Media pembelajaran identik dengan alat peraga langsung dan tidak langsung.
2)      Media pembelajaran digunakan dalam proses komunikasi intruksional.
3)      Media pembelajaran merupakan alat yang efektif dalam intruksional.
4)      Media pembelajaran memiliki muatan normatif bagi kepentingan pendidikan.
5)      Media pembelajaran erat kaitannya dengan metode mengajar khususnya maupun komponen-komponen sistem instruksional lainnya.
Media dalam kategori ini sudah dalam arti luas, tidak sebatas alat bantu komunikasi dalam pembelajaran. Tetapi media juga berkolaborasi dengan metodologi, guru, siswa, serta isi pelajaran yang akan disampaikan.
Oemar Hamalik dalam Darwanto (2007: 109) memberikan batasan-batasan dan ciri-ciri media pendidikan (yang sekarang disebut media pembelajaran) sebagai berikut:
1) Media pembelajaran identik dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dapat diamati melalui panca indera.
2) Tekanan utama terletak pada benda-benda atau sesuatu yang dapat dilihat dan bisa didengar.
3) Media pembelajaran digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dengan pengajaran antara siswa dan guru.
4) Media pembelajaran adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik di dalam atau di luar kelas.
5) Media pembelajaran merupakan suatu perantara (media) dan digunakan dalam rangka mendidik.
6) Media pembelajaran mengandung aspek-aspek sebagai alat dan sebagai teknik yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar.
Perlu diketahui bahwa media yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah media pembelajaran. Identifikasi ciri-ciri media tentunya disesuaikan dengan konteks pembelajaran. Adapun ciri-ciri media pembelajaran antara lain:
1)      Semua jenis alat yang dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran.
2)      Menumbuhkan minat belajar siswa
3)      Meningkatkan kualitas pembelajaran
4)      Memudahkan komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran.
Selain ciri-ciri media pembelajaran di atas, terdapat pula peranan media pembelajaran yang dipengaruhi oleh ruang, waktu, pendengar, serta sarana dan prasarana yang tersedia. Adapun peranan media pembelajaran adalah sebagai berikut :
1)      Dapat mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik.
2)      Dapat mengatasi batas-batas ruang kelas.
3)      Dapat mengatasi apabila suatu benda secara langsung tidak dapat diamati karena terlalu kecil. Misalnya, sel, bakteri, atom dapat digunakan media gambar, slide, film dan sebagainya.
4)      Dapat mengatasi gerak benda secara cepat atau terlalu lambat, sedangkan proses gerakan itu menjadi pusat perhatian peserta didik.
5)      Dapat mengatasi hal-hal yang terlalu kompleks dapat dipisahkan bagian demi bagian untuk diamati secara terpisah.
6)      Dapat mengatasi suara yang terlalu halus untuk didengar secara langsung melalui telinga. Misalnya, alat bantu sistem pengeras suara.
7)      Dapat mengatasi peristiwa-peristiwa alam. Misalnya, terjadinya letusan gunung berapi dapat digunakan media gambar, film dan sebagainya.
8)      Memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan masyarakat atau dengan keadaan alam sekitar. Misalnya, berkunjung ke museum, kebun binatang dan sebagainya.
9)      Dapat memberikan kesamaan/kesatuan dalam pengamatan terhadap sesuatu yang pada awal pengamatan peserta didik berbeda-beda.
10)  Dapat membangkitkan minat belajar yang baru dan membangkitkan motivasi kegiatan belajar peserta didik (Rohani , 1997: 7).
Ruang lingkup media pembelajaran adalah meliputi segala alat, bahan, peraga, serta sarana dan prasarana di sekolah yang digunakan dalam proses pembelajaran. Media tersebut bisa memberikan rangsangan pada siswa untuk belajar, menjadikan pembelajaran makin efektif dan efisien, bisa menyalurkan pesan secara sempurna, serta dapat mengatasi kebutuhan dan problem siswa dalam belajar. Lebih penting lagi adalah media ini sengaja dipilih dalam proses pembelajaran. Sehingga media yang tidak berorientasi pada pecapaian tujuan pembelajaran bukan termasuk dalam ruang lingkup media pembelajaran.

b. Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran telah menjadi bagian integral dalam pembelajaran. Bahkan keberadaannya tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini telah dikaji dan diteliti bahwa pembelajaran yang menggunakan media hasilnya lebih optimal. Walter Mc Kenzie (2005: 45) dalam bukunya “Multiple Intelligences and Instructional Technology” mengatakan, media memiliki peran penting dalam pembelajaran di kelas, yang mempengaruhi kualitas dan keberhasilan pembelajaran. Dalam bagian ini dipaparkan berbagai fungsi media dalam pembelajaran.
Pada mulanya media hanya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa antara lain untuk mendorong motivasi belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkrit, serta mudah difahami. Dengan demikian media dapat berfungsi untuk mempertinggi daya serap atau retensi belajar siswa terhadap materi pembelajaran (Miarso, 1986: 49).
Oemar Hamalik dalam Arsyad (2006: 15) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran berbasis multimedia atau media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Angkowo dan Kosasih (2007: 27) berpendapat bahwa salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu pembelajaran, yang ikut mempengaruhi situasi, kondisi dan lingkungan belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah diciptakan dan didesain oleh guru. Selain itu media dapat memperjelas pesan agar tidak terlalu bersifat verbal (dalam bentuk kata tertulis dan kata lisan belaka). Memanfaatkan media secara tepat dan bervariasi akan dapat mengurangi sikap pasif siswa.
Pemakaian media dalam proses pembelajaran akan dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, serta membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Media juga dapat berguna untuk membangkitkan gairah belajar, memungkinkan siswa untuk belajar mandiri sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Media dapat meningkatkan pengetahuan, memperluas pengetahuan, serta memberikan fleksibilitas dalam penyampaian pesan. Selain itu media juga berfungsi sebagai alat komunikasi, sebagai sarana pemecahan masalah dan sebagai sarana pengembangan diri.
Important terms for Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran: media dan sumber belajar, pemanfaatan media, media pembelajaran berbasis multimedia, media sebagai sumber belajar, teknologi informasi dalam pembelajaran, media sumber belajar
  
SUMBER (2. PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER PEMBELAJARAN):






3.      PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ATRAKTIF

Pendidikan secara umum dapat dimengerti sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada intinya pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup ditengah-tengah masyarakat.
Sedangkan Pendidikan Berbasis Kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dapat dikuasai siswa baik secara pengetahuan maupun kemampuan yang dapat diamati dan diukur. Singkatnya adalah sekaligus mengetahui dan mampu menerapkan apa yang dikatahuinya itu. Oleh karena itu pendidikan yang berbasis kompetensi uji mutunya terletak pada kemampuan minimal yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran atau bidang studi tertentu.
Pembelajaran berbasis kompetensi berarti suatu program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai. Maka dalam pembelajaran berbasis kompetensi yang perlu adalah adanya rumusan kompetensi yang ingin dicapai secara spesifik, jelas dan terukur; strategi penyampaian yang menekankan keaktifan siswa, dengan penggunaan metode yang kolaboratif dan manajemen waktu yang tepat; serta sistem evaluasi yang tidak hanya mengukur daya ingat saja tetapi lebih-lebih pada daya nalar dan keterampilan. Yang pokok adalah penguasaan kompetensi dasar, oleh karena itu materi yang tidak menunjang pencapaian kompetensi dapat dihilangkan. Dasar proses pembelajaran adalah kompetensi, sehingga kegiatannyapun harus merunut pada kompetensi yang telah dirumuskan, bukan berdasarkan pada banyaknya dan urutan materi yang ada. Dengan demikian dibutuhkan keterampilan bagi para pendidik untuk merumuskan kompetensi dasar dan sekaligus menyeleksi materi yang ada, serta strategi pengalaman belajar yang membuat siswa dengan "gampang" mencapai kompetensi dasar.
PEMBELAJARAN AKTIF
Proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak, Kelas I dan II Sekolah Dasar sangat dibutuhkan suatu strategi pembelajaran yang aktif. Berbagai macam aktivitas perlu diterapkan dalam pembelajaran apapun. Dengan bermain, menari, berolahraga, dramatisasi, gerak tangan dan kaki, apapun yang merupakan aktivitas positif dapat diterapkan. Proses pembelajaran pada usia dini yang telah mengikat anak pada suatu disiplin ketenangan duduk dan terlalu banyak di kelas dengan hanya mendengarkan, dan mencatat, tidaklah tepat.
Yang dimaksud dengan pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa untuk mengalami sendiri, untuk berlatih, untuk berkegiatan sehingga baik dengan daya pikir, emosional dan keterampilannya mereka belajar dan berlatih. Pendidik adalah fasilitator, suasana kelas demokratis, kedudukan pendidik adalah pembimbing dan pemberi arah, peserta didik merupakan obyek sekaligus subyek dan mereka bersama-sama saling mengisi kegiatan, belajar aktif dan kreatif. Disini dibutuhkan partisipasi aktif di kelas, bekerja keras dan mampu menghargainya, suasana demokratis, saling menghargai dengan kedudukan yang sama antar teman, serta kemandirian akademis.

Beberapa petunjuk penerapan Pembelajaran Aktif:
a.       Mulailah pelajaran dengan menanyakan ringkasan atau apa yang penting dari pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk membagikan apa yang mereka tulis atau ketahui kepada teman sekelas.
b.      Mintalah peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apa yang belum mereka pahami atau minta keterangan lebih lanjut mengenai pelajaran yang lalu atau pelajaran yang akan diberikan.
c.       Mintalah peserta didik untuk menerka materi apa yang akan diberikan pada hari ini.
d.      Meminta peserta didik untuk menuliskan komentar/mengomentari secara lisan topik atau tema yang akan dibahas.
e.       Gunakanlah teknik permainan "jigsaw" untuk sarana permainan dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok memiliki tugas yang sama, tetapi sedikit informasi, sehingga mereka harus bekerjasama.
f.       Mempersiapkan diskusi dengan menanyakan sesuatu, menyebutkan angka satu untuk yang setuju atau menunjukkan kertas warna hijau, angka dua atau warna merah untuk yang tidak setuju, dan angka tiga atau warna kuning untuk yang ragu-ragu. Kemudian berdasarkan jawaban itu peserta didik diminta untuk mengajukan alasan atau argumentasinya.
g.      Kerja kelompok, dimana setiap kelompok melakukan aktivitas tertentu sesuai dengan topik atau tema yang sedang dibahas/disampaikan.
h.      Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik diminta untuk menuliskan ringkasan menurut bahasanya sendiri. Atau diminta untuk membuat suatu tanggapan sesuai dengan kemampuannya entah dengan menggambar, membuat puisi, mengekspresikan dengan gerakan, menyanyi dan atau menari.
i.        Peserta didik diminta untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan pokok atau tema bahasan, setelah ditukarkan dengan teman yang lain (misalnya sebangku), kemudian diminta untuk mengerjakannya sebagai pekerjaan rumah.
j.        Siswa diminta untuk memberikan contoh dari pengalamannya yang berkaitan dengan pokok/tema yang baru saja dibahas.
Anjuran praktis ini, terbuka akan penyesuaian dengan tingkat dan jenjang pendidikan yang ada.

PEMBELAJARAN ATRAKTIF
Pembelajaran atraktif adalah suatu proses pembelajaran yang mempesona, menarik, mengasyikkan, menyenangkan, tidak membosankan, variatif, kreatif dan indah. Dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan proses pembelajaran yang atraktif. Sebab pada umumnya anak-anak pada usia dini masih cepat bosan belajar dan berlatih, kegiatannya ditentukan oleh suasana hati dan menyenangi hal-hal yang indah, warna-warni, menggembirakan, dan mengumbar daya imajinasi yang tinggi dan liar. Pendidik hendaknya piawai dalam hal menciptakan proses pembelajaran yang mempesona dan membesut metode serta sarana yang mampu membuat mereka asyik belajar, bermain, melakukan sesuatu dengan variasi yang memadai. Pendidik harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan alat dan sarana belajar, alat permainan serta lagu-lagu atau cerita-cerita sederhana dan ringkas. Sehingga tidak kekurangan akal dan sarana untuk mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Keterpesonaan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat ditentukan oleh karena keterampilan pendidik dalam mendongeng atau bercerita; keterampilan membuat alat dan sarana bermain; kepandaian pendidik dalam menyanyi, kreativitas pendidik dalam menggunakan barang-barang bekas menjadi alat peraga; keterampilan pendidik dalam memilih metode secara variatif; dan penciptaan suasana kelas yang menggembirakan, menyenangkan dan nyaman. Namun ada satu hal yang sangat penting dari semua itu yaitu kepandaian pendidik dalam membangun komunikasi dan keakraban dengan peserta didik. Komunikasi yang lancar, keakraban yang sangat erat akan menentukan semua proses pembelajaran menjadi atraktif.
Oleh karena itu tidak kalah pentingnya adalah penampilan profil pendidik di depan kelas. Apakah dalam berpakaian telah sewajarnya sesuai dengan tugas dan peran yang sedang dilakukan. Apakah ekspresi wajah dan tubuh menampakkan keceriaan, kebahagiaan, kegesitan, kelincahan. Apakah dalam ungkapan kata-kata dan perilaku lebih menunjukkan kesantunan, penghargaan yang positif terhadap anak-anak. Apakah pendidik mampu "mensejajarkan" diri dengan anak-anak yang sedang dihadapinya. Sehinga peserta didik merasa nyaman, tentram, damai, senang dan bergairah dalam belajar dan berlatih. Singkatnya guru yang atraktif adalah guru yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta sikap profesional dalam mengusahakan proses pembelajaran yang mempesona, menarik dan menyenangkan, yang dimulai dari penciptaan profil diri yang menarik dan mempesona bagi anak.
Selain unsur pendidik, strategi pembelajaran, suasana kelas, pembelajaran atraktif juga ditentukan oleh keadaan kelas dan sarana prasarananya. Untuk ruang kelas Taman Kanak-Kanak dan juga ruang kamar di rumah, sangat mendukung jikalau dipenuhi dengan warna-warni keceriaan. Ini juga sekaligus untuk memperkenalkan warna-warna dasar. Alat dan sarana permainan juga dicat dengan warna-warni ceria, yang mengungkapkan unsur dinamis.
Catatan yang cukup penting adalah bahwa peserta didik diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk menggunakan alat dan sarana yang ada. Memang penting diajari bagaimana menggunakan alat dan sarana dengan tepat, tetapi jangan sampai dilarang hanya karena supaya tidak cepat rusak. Alat dan sarana yang disediakan di ruang kelas atau kamar bermain anak adalah untuk bermain, belajar dan berlatih. Melarang penggunaannya hanya menjadikan hambatan dalam kemajuan belajar anak-anak. Lebih baik alat dan sarana itu rusak karena dipakai untuk berlatih, belajar dan bermain, daripada rusak hanya karena disimpan.
Sifat pokok dari pembelajaran atraktif adalah memukau, menarik, menyenangkan, indah. Atraktif dari segi fisik menyangkut ruangan kelas, taman bermain, dan alat sarana permainan. Atraktif dari segi suasana menyangkut profil pendidik yang murah senyum, ramah, memiliki kasih sayang yang memadai terhadap anak-anak, berhubungan akrab. Serta atraktif dalam proses pembelajaran yang menyangkut penggunaan metode yang kolaboratif dan variatif, tempat pembelajaran yang tidak hanya di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas (out door). Orientasi untuk Taman Kanak-Kanak adalah bermain dan bernyanyi. Sedangkan orientasi untuk Anak kelas I dan II Sekolah Dasar adalah pengembangan kemampuan membaca, menulis dan berhitung, dengan suasana bermain, bernyanyi, dan berlatih secara sederhana dan tidak menekan.
Penampilan dari pembelajaran atraktif misalnya nampak pada ruangan kelas dekoratif, banyak dipajang dan juga digantungkan hiasan-hiasan yang bersifat mendidik untuk mengenalkan lingkungan terdekat anak-anak yang indah. Selain itu juga harus menunjukkan estetika, termasuk warna cat, jenis permainan, gambar-gambar. Di dalam rangan bermain hendaknya tersedia banyak media bagi anak-anak, media untuk mengenal bangunan, untuk mengenal gambar huruf dan angka, media untuk mengenal benda-benda sekitar, media untuk mengenal buah-buahan, sayur-sayuran. Pada pokoknya media yang dapat menolong anak untuk mengenali dirinya sendiri dalam tema "AKU", "Panca Indera" dan "Keluarga". Sejauh mungkin terdapat alat peraga dan alat bantu bermain atau berkegiatan, yang diusahakan oleh para pendidik. Penampilan taman bermain sejauh mungkin juga memperhatikan kaidah-kaidah estetika, warna-warni, bervariasi, dekoratif, tetapi tetap aman dan nyaman digunakan. Jangan lupa juga agar terdapat ilustrasi dan situasi penuh warna. Jadi singkatnya dalam penampilan kelas atau ruangan, taman bermain lengkap dengan alat-alat permainannya, gambar/ilustrasi, hendaknya menarik, mempesona dan memukau anak-anak. Diharapkan dengan penampilan yang demikian anak-anak akan merasa tidak bosan untuk belajar di sekolah. Hal ini masih penting juga diusahakan di kelas I dan II SD.
Pada pendidikan usia dini yang ditekankan ialah pembiasaan-pembiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk Taman Kanak-Kanak lebih ditekankan pada pengenalan dan pengembangan peran serta fungsi diri dengan Tema "AKU", pengenalan dan pengembangan fungsi "Panca Indera", serta pengenalan dan pengembangan hubungannya dalam "Keluarga". Dari situ baru dikembangkan dalam hal kemampuan daya pikir, perasaan dan keterampilan seperti membaca, menulis dan berhitung, mengendalikan diri, bekerja sama, yang semuanya masih disampaikan dalam suasana gembira, ceria dalam bermain dan bernyanyi serta menari/gerak.

PEMBELAJARAN BERDASARKAN KECERDASAN JAMAK
Pendidikan sekarang ini terlalu dipersempit pada pengembangan kecerdasan pikir yang diukur dengan IQ saja. Pengertian ini harus digeser pada pemahaman bahwa sebenarnya setiap orang memiliki kecerdasan jamak/majemuk. Pendidikan dan pembelajaran seharusnya memobilisasi kecerdasan jamak/majemuk. Artinya, sekolah dalam menyusun kurikulum, atau pendidik dalam menyusun proses pembelajaran, atau orang tua dalam mendidik dan melatih putra-putrinya, bertanya bagaimana dapat membantu sebaik mungkin anak-anak yang memiliki kecerdasan logika-bahasa (bercerita), musik, berelasi dan berkomunikasi, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan gerakan badan, kecerdasan ruang, dan kecerdasan intra pribadi. Kurikulum kita yang tradisional ternyata tidak banyak membantu perkembangan kecerdasan peserta didik. Banyak anak tidak sukses dalam belajar, hasilnya dibawah ukuran kecerdasannya, sebab tidak ada sarana dan kesempatan untuk mengambangkan dan melatih kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki. Menurut Howard Gardner, hanya dua saja yang sangat ditekankan di sekolah-sekoloah yaitu kecerdasan logika matematis dan logika bahasa.
Dalam kecerdasan jamak, anak yang mungkin tidak mampu di dalam kecerdasan logika matematika dan bahasa, dia dapat dikembangkan dengan lima kecerdasan lainnya. Mungkin dapat dibantu untuk mengembangkan kecerdasan musiknya, keterampilan gerak badannya dalam menari atau berolah raga, dilatih kecerdasannya dalam pergaulan, bagaimana memahami orang lain, bagaimana bekerjasama. Singkatnya setiap anak dapat dilatih dan dikembangkan melalui tujuh macam kecerdasan yang ada. Misalnya sejauh mungkin di dalam proses pembelajaran atau di dalam kelas, pendidik mengusahakan pusat-pusat pembelajaran atau waktu-waktu yang difokuskan pada bermacam kecerdasan yang ada. Misalnya ada pusat seni (baik untuk seni rupa/lukis, drama), pusat matematika (untuk berhitung, menggambar angka, himpunan), pusat musik (seni musik dan seni suara), pusat bahasa (untuk membaca, mengarang, komunikasi), pusat proyek bersama, dan pusat untuk kerja individual. Dengan demikian setiap anak akan terlayani dengan baik, tidak hanya terfokus pada mereka yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika.
Salah satu penyebab kegagalan belajar di sekolah dikarenakan pendidik memandang bahwa setiap anak itu memiliki pola belajar mengajar yang sama, sehingga tidak menyediakan proses dan menu pembelajaran yang berbeda-beda. Akibatnya hanya anak-anak tertentu saja yang maju yaitu yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika yang lumayan baik. Kita kurang mengembangkan metode kolaboratif dan variatif dan pusat-pusat pembelajaran, sehingga sangat sedikit anak yang terbantu dalam mengembangkan dan melatih kecerdasan. Kita juga kurang mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berdasar pada kecerdasan majemuk seperti supermarket yang menyediakan berbagai menu dan cara pendekatan pembelajaran.
Di Taman Kanak-Kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan menu dan proses pembelajaran berdasarkan kecerdasan jamak/majemuk. Pendidik merancang sedemikian rupa ruangan kelas, alat peraga, alat permainan, kelompok belajar, metode, tugas, sehingga ketujuh kecerdasan yang ada dapat dilatihkan dan dikembangkan. Juga yang tidak kalah penting adalah menyediakan sarana dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berinteraksi, baik berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun berinteraksi secara sosial dengan orang-orang terdekat. Sebab suasana yang kondusif dalam pergaulan (relasi dan komunikasi), serta kemampuan untuk mengenal diri sendiri, mengembangkan sikap empati, simpati dan juga rasa persaudaraan yang saling mengembangkan. Mungkin dua motto berikut dapat memotivasi kita dalam melaksanakan proses pembelajaran berdasar kecerdasan jamak: Pertama, "Semua anak itu cerdas dan ajarlah (didiklah) setiap anak sesuai dengan keunikan talentanya masing-masing." Kedua, " Kenalilah dirimu sendiri dan berjalanlah beriringan dengan teman-temanmu, merupakan keterampilan kunci untuk mengembangkan kecerdasan."

Hasil salah satu penelitian :
Hasil penelitian dari suatu sekolah yang telah melaksanakan pendekatan pembelajaran dengan tujuh pusat atau tujuh kecerdasan yang berbeda-beda, menunjukkan suatu hasil yang sangat penting. Siswa belajar melalui membaca, menulis, komputer, pemecahan masalah secara kooperatif, bergerak dan "membangun sesuatu", menyanyi dan menciptakan irama, dan melalui bentuk-bentuk seni yang lain. Kurikulum dan proses pembelajarannya dirancang baik secara tematis maupun perpaduan antar berbagai disiplin ilmu. Setelah diadakan penelitian selama tiga tahun melalui jurnal harian, penelitian suasana kelas, dan juga peningkatan hasil belajar siswa, hasilnya sebagai berikut:
a)      Menunjukkan adanya peningkatan sikap ketidaktergantungan, tanggungjawab dan kemandirian peserta didik dalam proses pembelajaran
b)      Menunjukkan perubahan perilaku untuk menghadapi suatu masalah
c)       Menunjukkan adanya peningkatan kemampuan untuk bekerja sama secara kooperatif
d)     Kemampuan kelompok dalam bekerja menggunakan berbagai macam cara dan media, paling tidak menggunakan 4 sampai 5 pendekatan kecerdasan jamak
e)      Peserta didik yang memiliki kecerdasan gerak tubuh umumnya lebih beruntung karena pendekatan dinamis dan bergerak
f)       Terlatih sikap-sikap kepemimpinan, karena aktif bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
g)      Di rumah menjadi lebih rajin, lebih aktif belajar, lebih positif sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah
h)      Proses kegiatan dengan musik atau lagu dan bergerak dari pusat belajar yang satu dengan yang lainnya, menjadikan anak lebih bergairah dalam hidup dan bahagia
i)        Peran pendidik semakin berubah dari instruktor, informator ke fasilitator, pendamping lebih sebagai sumber belajar yang mendampingi peserta didik
j)        Peserta didik menunjukkan peningkatan kemampuan dalam berpikir, merasakan, bekerjasama, dan menunjukkan keaktifan yang efektif

SUMBER (3. PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ATRAKTIF):
Riyanto, Br. T. (2002). Pendidikan dan Pembelajaran Atraktif, [Online]. Tersedia: http://www.bruderfic.or.id/h-57/. [04 April 2013]





4. MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF DI TAMAN KANAK-KANAN
Oleh: Kartini, S.Pd. (Widyaiswara PPPG Tertulis Bidang Studi Keguruan)

Sasaran utama dalam kerangka sistem dan aktifitas persekolahan di antaranya mempersatukan pendidikan dan kreatifitas peserta didik. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik termasuk potensi memberikan respon kreatif terhadap hal-hal sekitar kehidupannya. Ada yang beranggapan bahwa bila daya kreativitas peserta didik rendah, maka secara pedagogis ada yang kurang pas dalam kerangka sistem dan aktivitas persekolahan.Malik Fadjar sebagai praktisi pendidikan berpendapat selama ini proses belajar mengajar terasa rutin dan statis, kalaupun ada perubahan atau perbaikan sifatnya masih sepotong-sepotong dan parsial. Padahal pembaharuan dan perubahan tidak hanya menyangkut didaktik metodik saja, melainkan menyangkut pula aspek-aspek pedagogis, filosofis, input, proses, dan output.
James W. Botkin menamai proses belajar itu dalam suasana inovatif [innovative Seaming). Suasana belajar yang inovatif dapat memecahkan persoalan-persoalan krisis dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah dalam menghadapi kehidupan serta menjaga harkat martabat manusia supaya tetap berkembang.
Sementara ini ada pemahaman yang salah, mereka menganggap bahwa guru TK tidak lagi berpandangan bahwa taman yang paling indah tempat bermain dan berteman banyak yang penuh dengan suasana inovatif. Akan tetapi tempat belajar, tempat mendengar guru mengajar dan mengerjakan PR. Tentu saja hal itu akan membuat anak-anak jenuh, pasif, dan terlebih lagi hilang sebagian masa bermainnya.
Dalam tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana mempertemukan pendidikan dan kreativitas pada anak didik melalui model pembelajaran di TK yang atraktif.
PPPG Tertulis telah rnengadakan studi banding pada sekolah Taman Kanak-kanak di wilayah Bandung tengah mengenai pengembangar model pendidikan di TK. Berdasarkan temuan di lapangan ada beberapa TK yang sedang menerapkan pengembangan –model pendidikan untuk TK Atrakfif.
Gagasan TK Atraktif tersebut pada dasarnya mempakan upaya mengembalikan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman yang paling indah. Maksud tainan di sana yaitu TK yang menyenangkan dan menarik. Selain dari itu, dapajuga menantang anak untuk bermain sambil mempelajari berbagai hal tentang bahasa, intelektual, motorik, disiplin, emosi, dan sosiobilitas.Kata atraktif mengandung makna selain menarik dan menyenangkan juga penuh kreativitas dan dapat mendorong anak bermain sambil belajar sesuai dengan prinsip pokok pendidikan di TK.

Pengembangan Model Pelajaran untuk TK Atraktif
Seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa tujuan pokok dari pengembangan TK atraktif ialah mengembalikan dan menempatkan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman. Secara khusus, pengembangan TK atraktif bertujuan untuk:
  • Menanamkan filosofi pelaksanaan pendidikan di Taman Kanak-kanak.Filosofi pendidikan TK telah disusun dan dituangkan dengan indahnya dalam mars lagu TK. Mars TK bukan hanya sekedar dinyanyikan, tapi merupakan pengejawantahan isi dan makna yang tertuang dalam lagu tersebut. TK adalah “taman yang paling indah”, secara filosofi seharusnya menjiwai pelaksanaan pendidikan TK dengan berbagai bentuk kegiatan yang indah, menarik dan menyenangkan anak. “Tempat bermain”, yaitu melalui bermain anak akan “berteman banyak”, urrtuk mempelajari karakter, keinginan, sikap, dan gayatingkah laku masing-masing.
  • Menyebarkan wawasan tentang pelaksanaan pendidikan TK yang atraktif. Tingginya derajat penyimpangan TK mengharuskan perlunya secara intensif penyebaran wawasan dan pemahaman tentang makna dan proses pendidikan TK atraktif.
  • Mengubah sikap dan perilaku guru yang belum sesuai dengan kerakteristik pendidikan di TK.
  • Mendorong munculnya inovasi dan kreativitas guru dalam menciptakan dan mengembangkan iklim pendidikan yang kondusif di TK.
Selanjutnya suatu Taman Kanak-kanak dapat dikatakan atraktif apabila memenuhi 3 persyaratan yang disebut sebagai 3 pilar utama.
Pilar pertama: Penataan lingkungan, baik di dalam maupun diluar kelas. Walaupun penataan lingkungan di TK sudah ada dalam buku pedoman sarana pendidikan TK. Namun bagi seorang guru yarrg kreafif, tidak ada sejengkal ruangan yang tidak bisa dijadikan sarana pengembangan anak. Segi penataan lingkungan di dalam kelas, setiap ruangan, mulai dari lantai, dinding, rak buku, jendela, sampai langit-langit dapat dibuat menjadi atraktif. Begitu juga segi penataan lingkungan di luar kelas, mulai dari pintu gerbang, jalan menuju kelas, tanaman hias, apotik hidup, kandang binatang ternak, saluran air, tempat sampah, papan pengumuman, ayunan, jungkitan, papan luncur sampai terowongan semuanya bisa dirancang atraktif. Contoh: Pintu gerbang- bisa dibentuk menjadi bentuk ikan hiu, harimau atau ayam.
Pilar kedua: Kegiatan bermain dan -alat permainan edukatif, Merancang, dan mengembangkan berbagai jenis alat permainan edukatif, bagi guru yang kreatif akan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar anak, misalnya terbuat dari koran, kardus, biji kacang hijau, batang korek api, lilin, gelas aqua dan sebagainya. Demikian pula pada kegiatan pengembangan kemampuan anak, akan dikemas oleh guru menjadi kegiatan yang menarik. dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), contohnya dalam pembukaan ada kegiatan brainstorming, dalam proses permainan ada kegiatan fun cooking, sandal making, story reading, atau story telling.
Pilar ketiga: Ada interaksi edukatif yang ditunjukkan guru. Guru TK harus memahami dan melaksanakan tindakan edukatif yang sesuai dengan usia perkembangan anak. Mulai dari. pembukaan kegiatan proses KBM sampai penutup kegiatan. Tindakan guru dapat dimulai dengan memberikan teladan, misalnya cara duduk, membuang sampah etika makan, berpakaian, berbicara dan sebagainya. Demikian pula cara bertindak, misalnya memberi pujian dan dorongan pada anak, menunjukkan kasih sayang dan perhatian hendaknya adil.

Beberapa Model Pendidikan TK Atraktif
Dalam tulisan ini, akan dikemukakan 2 contoh model pendidikan TK atraktif, yaitu Pengajaran Suara, Bentuk dan Bilangan dan Sistem PengajaranSentra.

1. Pengajaran Suara, Bentuk, dan Bilangan
Konsep pengajaran suara, bentuk dan bilangan berawal dari konsep dasar yang dikemukakan oleh John Heindrich Pestalozzi. Walaupun Pestalozzi hidup pada abad 16, tapi pandangan dan konsep-konsepnya banyak yang menjadi kerangka dasar para pemikir pendidikan anak untuk Taman Kanak-kanak di abad sekarang. Salah satu karyanya berjudul “Die Methoden” yang mengupas tentang metodologi pembelajaran dalam beberapa bidang pelajaran. Salah satu pandangannya yang sangat relevan dalam pendidikan untuk TK atrakfif adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada suara, behtuk dan bilangan. Konsep ini sangat dekat dengan pengembangan potensi anak pada dimensi auditori, visual dan memori yang tepat digunakan bagi perkembangan anak TK.
Pandangan Dasar tentang Pendidikan
Pestalozzi mempunyai pandangan bahwa pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik. Atas dasar pandangan ini, ia menentang pengajaran yang “verbalists”. Pandangan ini melandasi pemikirannya bahwa pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anakmampu menolong dirinya sendiri yang dikenal dengan “Hilfe Zur Selfbsthilfe“.
Dilihat dari konsepsi tujuan pendidikan, Pestolozzi sangat menekankan pengembangan aspek sosial pada anak sehingga anak dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya serta mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. Pendidikan sosial ini akan berkembang jika dimulai dari pendidikan ketuarga yang baik. A Malik Fajar dalam opininya tentang Renungan Hardiknas tanggal 2 Mei 2001 sangat mendukung gagasan untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis masyarakat (community base education) dan menjadikannya sebagai paradjgma barn sekaligus model yang patut ditindaklanjuti.
Pada kenyataannya baik pendidikan maupun sistem dan model-model kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya. Jadi menurutnya pendidikan berbasis masyarakat akan memperkuat posisi dan peran pendidikan sebuah model sosial. Ada 3 prinsip yang menjadi dasar pendidikan ini, yaitu sebagai berikut.
  • Pendidikan TK menekankan pada pengamatan alam. Semua pengetahuan bersumber pada pengamatan.- Pengamatan seorang anak pada sesuatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan pengertian lama dan membentuk pengetahuan. Selain itu Pestolozzi juga menganjurkan . pendidikan kembali ke alam (back to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah mengajak anak melakukan pengamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
  • Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi pengetahuan. Keaktifan juga akan mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya akan menjadi pengetahuan baru. Inilah pemikiran Pestolozzi yang banyak menjadi topik perbincangan yang disebut belajar aktif (active learning).
  • Pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap. Pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah sampai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.

Konsep Pendidikan Atraktif dari Pestolozzi
Ciri khas pandangan Pestalozzi mengenai proses pendidikan TK atrakfif yaitu melalui adanya pengajaran suara, bentuk dan bilangan. Semua bidang pengembangan yang diajarkan pada anak dikelompokkan dalam 3 kategori sebagai berikut.
  • Konsep suara mencakup bahan pengembangan bahasa, pengetahuan sejarah dan pengetahuan bumi.
  • Konsep bentuk mencakup pengetahuan bangun, menggambar dan menulis.
  • Konsep bilangan mencakup semua aspek yang berkaitan dengan berhitung.
Ketiga konsep di atas dapat melalui pengembangan AVM (Auditory Visual Memory). Melalui pengembangan AVM ini fungsi sel-sel syaraf akan berkembang dan selanjutnya akan dapat mengembangkan potensi-potensi lainnya seperti imajinasi, kreativitas, intelegensi, bakat, minat anak, misalnya dalam kelompok pengembangan auditori (bahasa), pengembangan perbendaharaan kosa kata anak dan kemampuan berkomunikasi harus mendapat perhatian intensif. Perbendaharaan kosakata akan menyentuh atau mempengaruhi dimensi potensi lainnya. Kemampuan anak berkomunikasi tergantung pada penguasaan kosakata anak.Dalam pelaksanaannya, pengembangan AVM dilaksanakan secara terpadu (intergrated). Kegiatan yang menggunakan metode percakapan dan bercerita, akan merupakan metode yang efektif dalam pengembangan AVM di TK.Sebagai contoh: memperkenalkan wama merah, bentuk bulat, rasa manis pada “Apel” merupakan salah satu model intergrated dalam pengembangan AVM.
  • Melalui gambar : anak diperkenalkan dengan pengertian “Apel”.
  • Melalui kosakata :anak mengucapkan kata “apel”.
  • Melalui bentuk :anak mengenal bentuk bulat.
  • Melalui bilangan :anak menghitung jumlahnya1, 2, 3 dan seterusnya.

2. Sistem Pengajaran Sentra
Model pendidikan ini, menitik beratkan pada pandangan seorang ahli pendidikan, Helen Parkhust yang lahir tahun 1807 di Amerika. Pandangannya adalah kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap anak akan maju dan berkembang sesuai dengan kapasitas kemampuannya masing-masing. Walaupun demikian kegiatan pengajaran harus memberikan kemungkinan kepada murid untuk berinteraksi, bersosialisasi dan bekerja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Helen Parkhust tidak hanya mementingkan aspek individu, tapi juga aspek sosial.Untuk itu bentuk pengajaran ini merupakan keterpaduan antara bentuk klasikal dan bentuk individual. Sebagai gambaran pelaksanaan model ini, dapat diungkapkan sebagai berikut.


a) Ruangan kelas
Ruangan kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan vak atau sentra-sentra. Setiap ruangan vak atau sentra. terdiri atas satu bidang pengembangan. Ada sentra bahasa, sentra daya pikir, sentra daya cipta, sentra agama, sentra seni, sentra kemampuan motorik. Contohnya pada sentra bahasa terdapat bahan, alat-alat, serta sumber belajar seperti tape recorder, alat pendengar, kaset, alat peraga, gambar, dan sebagainya.
Pada sentra daya pikir berisi bahan-bahan ajar seperti alat mengukur, manik-manik, lidi untuk menghitung, gambar-gambar, alat-alat geometris, alat-alat laboratorium atau majalah pengetahuan. Demikian pula pada sentra khusus seperti sentra balok, sentra air, sentra musik atau sentra bak pasir.
b) Guru
Setiap guru harus mencintai dan menguasai bidang pengembangan masing-masing. Guru harus memberi penjelasan secara umum kepada murid-murid yang mengunjungi sentranya sesuai dengan tema yang dipelajari. Memberi pengarahan, mengawasi dan mempematikan murid-murid ketika menggunakan alat-alat sesuai dengan materi yang dipelajarinya. .Selanjutnya menanyakan kesulitan yang dialami murid-murid dalam mengerjakan materi tersebut. Selain dari itu guru sentra harus menguasai perkembangan setiap murid dalam mengerjakan berbagai tugas s’ehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap murid dalam menguasai bahan-bahan pengajaran atau tugas perkembangannya.
c) Bahan dan Tugas
Bahan pengajaran setiap sentra terdiri dari bahan minimal dan bahan tambahan. Bahan minimal yaitu bahan pengajaran yang berisi uraian perkembangan kemampuan minimal yang harus dikuasai setiap anak sesuai tingkat usianya. Bahan ini harus dikuasai anak dan merupakan target kemampuan minimal dalam mempeiajari setiap sentra tertentu.
Bila anak sudah menguasai bahan pengajaran minimal, dapat memperoleh bahan pengajaran tambahan, yang merupakan pengembangan atau pengayaan dari pengajaran minimal. Pengayaan ini diberikan bisa secara individu maupun kelompok pada anak yang menguasai bahan minimal pada satuan waktu yang relatif sama. Bahan pengayaan ini tentu saja disesuaikan dengan kondisi lingkungan, dengan demikian anak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan sesuai dengan kenyataan dengan penuh tanggungjawab.
Bahan setiap sentra hendaknya terintegrasi dengan sentra lainnya. Di bawah ini merupakan contoh adanya integrasi antar sentra bidang pengembangan.
Tema : Tanaman
Sentra bahasa: Dramatisasi “Fun Cooking”
Sentra musik: bernyanyi menanam jagung
Sentra Aritmatika: belanja dan menghitung sayur-sayuran
Sentra air: memelihara dan merawat tanaman
d) Murid dan Tugasnya
Setiap murid akan mendapat tugas dan penjelasan secara klasikal. Masing-masing murid dapat memilih sentra yang akan diikutinya. la bebas menentukan waktu dan menggunakan alat-alat untuk menyelesaikan tugasnya. Setiap murid tidak boleh mengerjakan tugas lain sebelum tugas yang dikerjakannya selesai.Untuk mengembangkan sosiobilitas, murid boleh mengerjakan tugas tertentu bersama-sama. Dengan cara ini murid akan mempunyai kesempatan bersosialisasi, bekerja sama, tolong menolong satu dengan lainnya. Murid yang dapat menyelesaikan suatu tugas atau sudah menguasai bahan minimal, ia dapat meminta tugas tambahan dengan memilih kegiatan lain yang digemarinya. Agar perbedaan setiap murid tidak terlalu jauh, guru dapat menetapkan bahan maksimal pada setiap pokok bahasan. Bila murid tidak dapat menyelesaikannya di sekolah, karena suatu hal, maka guru dapat memberi izin untuk menyelesaikannya di rumah.
e) Penilaian Kemajuan Murid
Untuk menilai kemajuan murid digunakan tiga jenis kartu penilaian, yaitu kartu kemajuan individu, kartu rekapitulasi (mingguan, bulanan, catur wulan) dan kartu rekapitulasi laporan perkembangan setiap murid.

Penutup
Beranjak dari uraian di atas, mengenai model pembelajaran TK atraktif, maka dapat disimpulkan bahwa betapa sistem dan praktik pendidikan perlu dirancang, dikembangkan agar secara nyata menumbuhkan daya cipta peserta didik, melahirkan hal-hal yang baru, kemampuan berpikir secara divergen, kemampuan merealisasikan gagasan dan keinginan yang koheren dengan situasi-situasi baru, membangun konstruksi pemikiran dan aksi yang positif.






5.      KARAKTERISTIK SISWA, MEDIA DAN METODE PEMBELAJARAN DI SD

 Karakteristik Anak SD
Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :
1.    Perkembangan Fisik
Hal tersebut mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik lai-laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 -13 tahun anak perempuan berkembang lebig cepat dari pada laki-laki, Sumantri dkk (2005).
2.    Perkembangan Kognitif
Hal tersebut mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola fikir.Perkembangan kognitif seperti dijelaskan oleh Jean Piaget dapat dijelaskan berdasarkan tiga pendekatan perkembangan yaitu :
1.    Tahapan Pra Oprasional
2.    Tahapan Oprasional Konkrit
3.    Tahapan Oprasional Formal
3.    Perkembangan Psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. Seperti dijelaskan oleh Robert J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Sejalan dengan R. J. Havighurst di atas, Syaodih (2007) menjelaskan tahapan perkembangan anak jika dipandang dari aspek psikis, moral dan sosial adalah :
Ketiga jenis perkembangan tersebut berjalan tergantung dari perkembangan masing masing jenis seperti tersebut di atas yang berbeda. Hal tersebut tergantung dari variabel stimulan yang mendorong. Apabila rangsangan fisik yang sering diberikan maka faktor fisik anak yang berkembangan demikian juga halnya dengan faktor kognitif dan psikososial.
Karakteristik Pembelajaran Matematika SD
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen, matematika mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu yang berimplikasi pada daya eksplorasi fikiran manusia. Perkembangan pesat ilmu pengetahun dan teknologi dewasa ini sebagian besar berasal dari perkembangan ilmu terapan matematika. Maka penguasaan ilmu matematika dasar maupun terapan adalah kunci dari suatu keinginan untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga penguasaan matematika dasar sedapat mungkin telah dimulai semenjak dini.
Mata pelajaran matematika diberikan pada tingkat sekolah dasar selain untuk mendapatkan ilmu matematika itu sendiri demikian juga untuk mengembangkan daya berfikir siswa yang logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan mengembangkan pola kebiasaan bekerjasama dalam memecahkan masalah. Kompetensi tersebut diperlukan siswa dalam mengembangkan kemampuan mencari, memperoleh, mengelola dan pemanfaatan informasi berdasarkan konsep berfikir logis ilmiah dalam rangka bertahan dalam kehidupan yang serba tidak pasti. Di era globalisasi dewasa ini segala hal dalam bertahan hidup memerlukan kesiapan dalam berkompetisi baik dalam sekala lokal maupun internasional.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum KTSP disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Matematika mengedepankan pendekatan pemecahan masalah yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan pemecahan tidak tunggal dan berbagai masalah matematis dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah maka perlu dikembangkan keterampilan menemukan masalah, mencari penyebab masalah, mengembangkan teknik mencari solusi pemecahan masalah dan menemulkan solusi yang paling tepat dalam pemecahan masalah. Walaupun dalam tataran sekolah dasar pengembangan sikap logis ilmiah tersebut sangat perlu tetapi dalam tataran permasalahan yang sederhana dan kontekstual. Dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BNSP 2006) hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) Dengan mengajukan permasalahan yang kontekstual maka secara bertahap siswa terbimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran guru diharapkan menggunakan pendekatan, metode dan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Mata pelajaran matematika pendidikan sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.    Memahami konsep matematika , menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, effesien dan tepat dalam pemecahan masalah
2.    Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3.    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4.    Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, dan atau media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah.
5.    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yang didasari oleh rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspek bilangan, giometri dan pengukuran serta pengolahan data. Bilangan membahas tentang kaedah konsep simbolisasi lambang bilangan dan perhitungan dasar sederhana yang banyak melibatkan media konkrit dan media manipulatif lainnya. Giometri dan pengukuran lebih fokus membelajarkan siswa tentang konsep ruang dan ukurannya dengan perhitungan dasar yang sederhana menggunakan media konkrit dan media manipulatif lainnya. Sedangkan Pengolahan data lebih banyak membahas tentang hakekat data, cara mengolah dan membaca data berdaasrkan kaidah rasional dan ilmiah menggunakan data-data konkrit dan data manipulatif. Penggunaan media dari konkrit ke absatrak mempertimbangkan tingkatan kelas dan daya nalar siswa. Semakin tinggi tingkatan siswa maka penggunaan media di arahkan ke semi abstrak (manipulatif) sampai tingkatan abstrak. Demikian juga semakin tinggi daya nalar logis siswa maka semakin berani bagi guru menggunakan media yang semi abstrak sampai abstrak. Hal ini terjadi pada kasus jika ditemukan siswa yang memiliki keberbekatan yang tinggi di bidang matrmatika. Sehingga siswa tersebut diberikan perlakuan khusus sebagai siswa berbakat, jenius dan sejenisnya.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan kaum konstruktifistik yang memandang bahwa pengetahuan adalah atas dasar bentukan kita sendiri seperti dikemukakan oleh Von Glaserfeld dalam Suparno (1997). Von Glaserfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dan gambaran dari suatu kenyataan yang ada. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif berdasarkan fakta dalam aktifitas seseorang dalam membagun pengalamanya sendiri. Seseorang membentuk skema, katagori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan dalam membangun strukgur kognitifnya.
Para konstruktifistik memandang bahwa satu satunya sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan menggunakan segenap panca indranya. Para kontruktifistik percaya bahwa pengetahuan tumbuh, berkembang dan ada dalam diri seseorang yang dalam keadaan mencari tahu tentang sesuatu. Pengetahuan tidak begitu saja dapat dipindahkan dari guru kepada siswanya. Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang dibelajarkan guru yang disesuaikan dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.
Menurut paham konstrufistik balajar merupakan proses hasil konstruksi sendiri sebagai hasil interaksinya dengan berbagai lingkungan dan pengalaman belajar. Pengkontruksian pemahaman dalam ivent belajar melalui proses asimilasi dan akomodasi. Secara hakiki proses asimilasi dan akomodasi terjadi sebagai usaha peserta didik untuk menumbuhkembangkan pengetahuan yang ada dibenaknya (Heinich, et.al 2002) Pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik awalnya disebut dengan prakonsepsi yang dimiliki siswa. Proses asimilasi terjadi apabila terdapat kesesuaian antara pengalaman baru dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. Sedangkan akomodasi terjadi jika pengalaman baru tidak sesuai dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. Prinsip ini dikembangkan oleh para pakar pendidikan bahwa ada satu hal lagi yang terjadi di struktur kognitif siswa jika kedua hal antara asimilasi dan akomodasi terjadi yang diistilahkan dengan generalisasi.
Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika dan sains maka para kontrutifisme bergerak pada sisi mengusahakan perubahan mendasar dari kurikulum yang menggunakan beberapa prinsip :
1.    Pendekatan yang menekankan penggunaan matematika dan sains dalam situasi dan minat siswa.
2.    Matematika pengetahuan artinya, bukan hanya menekankan isi matematika dan sains tetapi juga fokus dalam konteks prinsip-prinsipnya.
3.    Penekanan lebih pada konstruksi, interpretasi, koordinasi dan multiple ide
4.    Menekankan agar siswa dapat bereksplorasi menggunakan seluruh panca indranya

Penggunaan Media Alat Peraga
1.    Media Konkrit
Bagi kaum konstruktifisme belajar diartikan sebagai usaha mengubah konsepsi kognitif siswa melalaui usaha stimulan oleh guru menggunakan berbagai metode dan media yang memadai dan mendukung ke arah tersebut. Sehingga oleh Piaget mengistilahkan belajar adalah sebagai proses adaptasai kognitif . Ia mengadopsi istilah evolusi ala Darwin dalam memandang permasalahan ini. Di mana Darwin berpandangan bahwa perkembangan suatu mahluk hidup termasuk manusia di dalamnya seiring waktu berlalu selalu melalui proses adaptasi agar ia selalu dapat bertahan dalam kerasnya kehidupan. Proses adaptasi diperlukan dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Berangkat dari persepektif tersebut maka Piaget memandang bahwa struktur otak juga mengalami hal yang sama.
Struktur otak atau dalam istilah pendidikan adalah struktur kognitif juga mengalami hal yang disebut dengan adaptasi. Struktur kognitif beradaptasi melalui tiga cara yaitu akomodasi, asimilasi dan generalisasi. Akomodasi adalah proses adaptasi kognitif melalui penggantian konsep dan atau pengalaman lama dengan yang baru karna tidak sesuai lagi dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa . Sedangkan asimilasi adalah proses adopsi beberapa konsep dan atau pengalaman baru yang sesuai dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa. Sedangakan generalisasi adalah proses menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan konsep.
Berdasarkan prinsip belajar kontruktifistik maka perantara pembelajaran yang tepat yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran secara tepat adalah media konkrit. Dimana pengertian media konkrit dalam konteks pendidikan adalah benda benda yang dapat menjadi perantara menyampaikan pesan pembelajaran dari guru kepada siswa . Dipilih “benda” adalah untuk menegaskan bahwa obyek tersebut dapat diterima langsung oleh panca indra manusia, sehingga pada saat guru membelajarkan sesuatu yang berhubungan dengan suatu benda maka ada baiknya benda tersebut ditampilkan jika memungkinkan dan apabila tidak dapat digunakan dalam bentuk miniatur atau manipulatif baik manual ataupun elektronik. Hal yang paling penting adalah siswa mampu mengimajinasikan kesan obyektif terhadap pesan yang sampaikan.
Media didefinisikan sebagai medium yang artinya perantara atau pengantar sehingga terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima (Heinich et al, 2002; Ibrahim, 1997; ibrahim et al, 2001) Guru berperan sebagai komunikator dan siswa adalah komunikan sehingga proses pembelajaran termasuk salah satu proses komunikasi. Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga merangsang perhatian minat pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Proses pembelajaran adalah sebuah sistem yang menempatkan media pembelajaran dalam posisi penting selain guru, siswa, sumber belajar dan lingkungan belajar. Posisi media dalam sistem pembelajaran tidak dapat digantikan jika ingin mendapatkan hasil belajar yang optimal melalui pembelajaran yang atraktif. Media dapat digolongkan menjadi berbagai jenis berdasarkan pemakaian dan karakteristik jenis media. Terdapat lima model klasifikasi media pembelajaran. Seperti dikemukakan oleh (1) Wilbur Schramm, (2) Gagne, (3) Gerlach adn Ely, dan (4) Ibrahim. Berikut disajikan beberapa penggolongan media pembelajaran menurut para pakar media pendidikan.
Menurut Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal dan media sederhana. Ia juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV, radio dan faksimil ; (2) liputan terbatas pada ruangan seperti film, vidio, slide, poster dan audio tape; (3) media untuk belajar individual seperti buku, modul, program,komputer dan telepon.
Menurut Gagne , media dikelompokkan menjadi tujuh kelompok yaitu benda yang akan didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan yaitu pelontar stimulus bejajar, penarik minat belajar, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berfikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi dan memberi umpan balik.
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu visual diam,, film televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen mengkaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa media tertentu memiliki kelebihan untuk belajar tertentu, tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar (ada tinggi, sedang dan rendah).
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram dan simulasi. Sementara menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleksitas alat dan perlengkapan. Ia membedakan media menjadi media tanpa proyeksi, media tnpa proyrksi tiga dimensi, media audio, telvisi, vidio dan komputer.
Jika dipandang berdasarkan karakteristik media maka media dibedakan menjadi media pembelajaran dua dimensi dan media pembelajaran tiga dimensi. Media pembelajaran dua dimensi digolongkan kedalam media grafis, media bentuk papan, media cetak dan media lain yang penampakannya bebentuk dua dimensi. Sedangka media tiga dimensi digolongkan menjadi belajar benda sebenarnya melalui karyawisata, spesimen, media tiruan berupa miniatur atau bentuk lainnya.melalui peta timbul, dan bentuk lainnya yang dapat dilihat secara tiga dimensi.
Dengan penjabaran di atas maka segala media karakteristiknya adalah berusaha memvisualisasikan segala bentuk pesan sehingga siswa menangkap pesan yang disampaikan yang selanjutnya dipersepsikan dalam struktur kognitif menjadi konsep. Pesan yang dismpaikan dari media apapun bentuknya akan mengalami proses encoding perseptions dalam pikiran siswa. Tinkatan persepsi siswa terhadap pesan dari media dalam bentuk apapun tergantung dari prakonsepsi siswa. Jika dalam struktur kognitif siswa sudah tertanam suatu konsep (prakonsepsi), dimana kemudia diberikan konsep baru yang maka proses adaptasi kognitif melalui akomodasi dan asimilasi berlangsung. Terjadunya perubahan perilaku yang diharapkan menandakan konsep baru berhasil diadaptasi dan sejalan dengan konsep prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. Itu artinya penggunaan media sebagai penyampai pesan tepat berdasarkan simpul kognitif dan waktu (timingnya) tepat.
2.    Manfaat Media Konkrit
Penggunaan media konkrit dalam proses pembelajaran membawa dampak yang sangat luas terhadap pola pembelajaran tingkat sekolah dasar. Sebagian besar materi pembelajaran di SD bersifat imajinatif baik rasional maupun tidak, baik yang menyangkut saintifik dan non sains. Hal tersebut berbeda dengan pola pembelajaran sekolah kkejuruan yang mutlak harus menampilkan media asli ke dalam ruang belajar. Akan tetapi dengan luasnya bidang pembelajaran di SD yang meliputi IPA, IPS Matematika, Bahasa hingga keterampilan sehingga menyulitkan kita apabila semua pembelajaran harus dilengkapi dengan media asli. Sehingga timbul gagasan untuk memanipulasi benda asli agar menjadi media yang mendekati asli. Hal tersebut akan memudahkan siswa untuk membangun struktur konsepnya di otak. Secara rinci berikut manfaat dari media konkrit
1.    memudahkan siswa dalam membangun struktur kognitif dalam membentuk konsep.
2.    memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan program yang sudah ditetapkan.
3.    mengefektifkan proses pembelajaran
4.    meningkatkan interaksi komponen pembelajaran

3.    Keunggulan Media Konkrit
Media konkrit merupakan media yang saat ini paling dianjurkan penggunaannya oleh para pakar pendidikan, praktisi pendidikan dan pengamat pendidikan. Hal tersebut terjadi karna media konkrit memiliki banyak keunggulan di antaranya adalah :
1.    memiliki tingkat obyektifitas yang tinggi
2.    mudah berinteraksi dengan siswa melalui segenap panca indra
3.    memiliki fleksibilitas yang tinggi dimana dapat digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran yang lain
4.    dapat dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi.

4.    Kelemahan Media Konkrit
Disamping memiliki keunggulan media konkrit juga memiliki kelemahan. Sebab setiap benda ataupun hal yang lain di alam ini suatu saat memiliki dampak buruk. Karna hal tersebut selalu dihubungkan dengan faktor kesesuaian hubungannya dengan manusia. Manusia adalah subyek penentui apakah suatu benda atau hal lain merugikan atau menguntungkan. Hal-hal yang merupakan sisi negatif dari benda konkrit adalah berpulang kepada guru itu sendiri karna siswa sangat diuntungkan dalam hal ini. Sisi negatifnya adalah :
1.    sangat merepotkan guru dalam proses persiapan pembelajaran
2.    kadangkala suatu ide, benda dan hal tertentu sangat sulit dimanipulasi
3.    kadangkala ada media konkrit yang sangat menarik perhatian siswa sehingga banyak waktu tersita bukan untuk tujuan yang ada kaitannya dengan materi
4.    sehubungan dengan poin c, maka potensi kegaduhan siswa di kelas akan meningkat.
Sudah barang tentu sisi negatif memerlukan penanganan manajemen kelas yang effektif, sehingga suasana tetap menjadi kondusif walaupun potensi kemungkinan paling buruk terjadi.

5.    Karakteristik Media Konkrit
Digunakannya manipulasi media konkrit didasari oleh suatu alasan yang rasional dan kuat seperti dijelaskan berikut ini. Pada pembelajaran menggunakan kartu bilangan dan garis bilangan adalah jenis alat peraga konkrit manipulatif. Sebabnya adalah sulitnya mencari alat yang konkrit yang tepat untuk materi pembelajaran tersebut.
Secara khusus manipulasi media konkrit yang akan digunakan pada kegiatan saat ini adalah :
1.    Kartu bilangan bergambar
Kartu bilangan di atas dilengkapi dengan kait gantungan yang akan dipakai menggantungkannya pada paku pada garis bilangan, sehingga dapat dimainkan oleh siswa.

2.    Modifikasi garis bilangan
Dimana garis bilangan dibuat dari sebuah papan dimana titik pada bilangan ditandai dengan paku. Paku selain sebagai titik penanda juga berfungsi untuk menggantungkan kartu bergambar bilangan. Sehingga secara bebas dapat dimainkan oleh siswa.
3.    Tehnik Memainkan
Tehnik memainkan peraga tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a). Tempelkan papan garis bilangan pada papan tulis
b). Kemudian bagikan kartu bilangan kepada siswa
c). Ajak siswa menggantungkan bilangan pada papan berpaku secara terurut yang dimulai dari bilangan acak bebas sesuai keinginan siswa.
d). Demikian seterusnya sehingga sambil bermain siswa dapat mengurutkan bilangan

4.      Metode Bermain
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru. Sedangkan pengertian pembelajaran adalah usaha untuk membuat siswa belajar. Dengan mengambil dua pengertian di atas maka metode pembelajaran adalah jalan atau usaha yang ditempuh untuk membuat siswa belajar. Menyimak dari pengertian tersebut maka metode pembelajaran menempati posisi penting dalam memerankan fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Berikut beberapa pengertian metode seperti dikemukakan oleh beberapa ahli. Pengertian metode menurut Dr.S. Nasution adalah suatu cara yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam suatu tugas pekerjaan agar dapat mencapai tujuan sesuai yang ditetapkan. Sedangkan menurut Drs. H Abu Ahmad dkk (2005:52) metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang diberikan oleh seorang guru atau instruktur. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Syaiful B. Djamarah dkk (2006:82-84), metode berkedudukan :
1.    Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran
2.    Mensiasati perbedaan individual anak didik
3.    Untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar diharapkan makin efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sudah barang tentu factor lainpun harus diperhatikan seperti ; faktor guru, faktor siswa, faktor situasi, (lingkungan belajar), media dan yang lainnya.
Terdapat banyak ragam metode yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi pembelajaran sperti metode ceramah, metode diskusi, metode bermain, metode eksperimen, metode tutor teman sebaya, metode penugasan, metode observasi, metode bermain dan sebagainya. Saat ini penulis akan mengangkat metode bermain sebagai salah satu alternative dalam membuat suasana belajar lebih kreatif sehingga keterlibatan siswa dalam proses lebih besar.
Salah satu tokoh yang dianggap paling berjasa sebagai pencetus penggunaan metode bermain adalah Plato seorang filsuf Yunani. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Menurut Plato anak-anak akan lebih mudah mempelajari Aritmatika dengan cara permainan. Sedangkan Sudono (2000:1) mengemukakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak.
Dengan bermain anak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, anak-anak akan lebih senang dan menjadikan si anak lebih aktif. Sebagaimana dikemukakan oleh Mayke (dalam Sudono, 2000:3) bahwa belajar dengan bermain akan memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi serta mempraktekkannya. Arief Sadiman (2002:79) mengatakan permainan dapat dipakai untuk mempraktekkan keterampilan membaca dan berhitung sederhana. Tujuan pemberantasan buta aksara dan buta angka untuk orang dewasa atau pelajaran membaca, menulis permulaan serta matematika adalah yang lazim dikaitkan dengan permainan.
Dalam proses pembelajaran guru hendaknya memberikan kebebasan kepada setiap anak didiknya untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pemikiran mereka. Sebaiknya guru juga memberi kebebasan sesuai dengan sifat alami anak sehingga dalam mengembangkan kreatifitasnya anak tidak merasa takut untuk memiliki pendapat berbeda dengan gurunya
Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa metode bermain yang dimaksud adalah suatu cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan untuk menjelaskan konsep abstrak dalam matematika yang lebih menyenangkan Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mencegah ketakutan siswa terhadap pelajaran matematika sehingga siswa lebih paham dan lebih lama mengingatnya.
Berikut dikemukakan beberapa pendapat para ahli berupa teori tentang pentingnya penggunaan metode bermain diantaranya seperti diuraikan di bawah ini.

Teori-teori Belajar
1.    Teori Belajar menurut Behavioristik (Thordinke)
Belajar merupakan proses pembentukan hubungan yang erat antara stimulus (S) dengan respon (R) semakin erat hubungan antara hubungan S-R maka proses belajar telah berlangsung dengan baik. Belajar merupakan teori yang diutamakan latihan-latihan. Teori ini juga akan mencoba berbagai cara dan usaha untuk mendapatkan respon yang benar. Dalam belajar dengan cara ini harus ada: 1) motif pendororng kegiatan, 2) ada bermacam-macam respon dalam situasi tertentu, 3) ada eliminasi mencapai tujuan. Hukum dalam teori Thordinke ada tiga tahap yaitu : 1) Low readness yaitu kesiapan stimulus dalam bereaksi, jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan bereaksi, maka reaksi memuaskan. 2) Low of exerscises (hukum latihan, yaitu apabila S_R sering dilakukan atau dipraktekkan maka hubungan ini semakin kuat. Dalam praktek ini diberikan hadiah bagi respon yang benar. 3) Law of Effect (Hukun Akibat) yaitu apabila hubungan S_R dibarengai dengan pengaruh yang memuaskan maka hubungan ini menjadi kuat.
2.    Teori dari sudut pandang psikonalisa (Sigmund Freud)
Sigmund Freud, memandang bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Melalui bermain ataupun fantasi seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan serta pengalaman yang menyenangkan. Freud percaya bahwa bermain penting dalam perkembangan emosi anak. Perkembangan emosi anak yang dimaksud adalah dengan bermain proses belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat merangsang belajar siswa sehingga prestasi siswa dapat meningkat. Pandangan Freud tentang bermain akhirnya memberi ilham atau inspirasi kepada para ilmu jiwa untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosa ataupun “mengobati” anak yang bermasalah.

3.    Teori Belajar Kognisi
1) Menurut Piaget, anak menjalani tahapan perkembangan kognisi dan sampai akhirnya proses berfikir anak menyamai proses berfikir orang dewasa. Dalam teori Piaget, bermain bukan saja mencerminkan tahap perkembangan kognisi anak itu sendiri. Piaget juga mengemukakan bahwa saat bermain anak-anak tidak belajar sesuatu yang baru, tetapi mereka belajar mempraktekkan dan mengkonsolidasi keterampilan baru yang diperoleh. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa dengan bermain, keterampilan baru yang diperoleh melalui praktek tidak akan segera hilang dan akan selalu diingatnya sehingga belajar dapat meningkat.
2). Vygotsky memandang bermain identik dengan kaca pembesar yang dapat menelaah kemampuan baru dari anak yang bersifat potensial sebelum diaktulisasikan dalam situasi lain, khususnya dalam kondisi normal seperti di sekolah. Pandangan Vygotsky mengenai bermain bersifat mennyeluruh, dalam pengertian selain untuk perkembangan kognisi, bermain juga mempunyai peranan penting bagi perkembangan sosial dan emosi anak. Dengan demikian melalui bermain, anak dapat memiliki perhatian, daya ingat, dan kerjasama yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3). Teori Jerome Singer (1937), menegaskan bahwa menggunakan metode bermain sebagai usaha untuk menggunakan kemampuan fisik dan mental guna mengatur atau mengorganisasi pengalamanny. Bermain memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjelajahi dunianya serta mengmbangkan kreativitasnya.
4). Teori Robert White (1959) yang menjelaskan bahwa bahwa kegiatan bermain pada anak tidak membutuhkan hadiah ataupun reward namun mereka bermain untuk kegiatan itu sendiri. White mengemukakan bahwa dengan adanya kegiatan bermain anak-anak akan memperoleh kepuasan pribadi karena merasa kompeten. Keberhasilan melakukan sesuatu atau memperoleh tanggapan dari lingkungannya sudah merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Bermain dapat merupakan cara anak bertindak menurut kehendaknya sendiri dalam tindakan yang efektif. Jadi, dengan adanya kegiatan bermain itu sendiri dapat membuat siswa merasa senang dan ingin mengulanginya lagi.
5). Teori Jerome Brunner menyatakan bahwa belajar matematika akan berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang akan diajarkan, disamping hubungan-hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Brunner melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan yaitu: (a).Tahap Enactive Dalam tahapan ini anak-anak langsung terlibat dalam menggunakan/ memanipulasi objek. (b). Tahap Iconic dimana dalam tahap ini kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang dimanipulasinya. Pada tahap ini anak-anak tidak langsung dari objek. (c). Tahap Simbolik yaitu tahapan ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terkait objek-objek pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real.
6).Teori Belajar Dienes yang mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam Matematika yang disajikan dalam bentuk konkret akan dapat dipahami dengan baik. Konsep-konsep Matematika dipelajari menurut tahapan-tahapan bertingkat dalam belajar mamatika. Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu: (a). Permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan. Hal ini memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur yang dipelajari. (b). Permainan yang menggunakan aturan
Pada tahap ini siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam suatu konsep. Melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan struktur Matematika. (c). Permainan mencari persamaan sifat dimana pada tahap ini siswa mulai diarahkan untuk menemukan struktur yang menunjukkan kesamaan yang terdapat dalam permainan yang dimainkan (d). Permainan dengan reperesentasi yaitu merupakan tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Pada tahap ini anak mencari gambaran konsep kesamaan sifat dari situasi tertentu. (e). Permainan dengan simbolisasi dimana tahap ini merupakan tahap belajar konsep pada saat anak perlu merumuskan reperesentasi pada setiap konsep dengan menggunakan simbol Matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai. (f) Formalisasi
tahapan mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan. Dalam hal ini anak harus mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru.
Kerangka Konseptual dalam kegiatan belajar mengajar penggunaan metode mengajar matematika harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk anak/ peserta didik pada jenjang pendidikan permulaan pada umumnya masih senang bermain-main, maka pengajaran matematika akan lebih berhasil bila menggunakan metode bermain, karena anak didik dilibatkan secara aktif bermain dalam situasi nyata yang berkaitan dengan matematika. Dengan metode bermain pengajaran matematika akan lebih menarik dan menyenangkan karena menggunakan benda-benda konkret yang telah dikenal oleh siswa, sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada materi mengurutkan bilangan menggunakan garis bilangan. Selain menyenangkan bermain juga membantu anak untuk memahami materi pelajaran dan meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Mengurutkan bilangan dilakukan secara bertahap dari bilangan satuan, puluhan, ratusan bahkan dapat di acak antara satuan puluhan dan ratusan. Dengan kemampuan siswa yang mahir dalam mengurutkan bilangan dari kecil ke besar dan sebaliknya sehingga dapat menjadi dasar bagi pembelajaran selanjutnya.

DAFTAR ISI

Estrada, E. dkk. (2010). Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: ejournal.unesa.ac.id/article/3084/12/article.docx. [04 April 2013]


Riyanto, Br. T. (2002). Pendidikan dan Pembelajaran Atraktif, [Online]. Tersedia: http://www.bruderfic.or.id/h-57/. [04 April 2013]